Showing posts with label Korupsi. Show all posts
Showing posts with label Korupsi. Show all posts
Monday, July 29, 2019

Prinsip-Prinsip Pendidikan Anti Korupsi

Pendidikan merupakan salah satu proses pembentukan budaya. Untuk itu harus dilakukan aktivitas konsisten di berbagai tempat. Setidaknya terdapat ada 4 Prinsip Pendidikan Antikorupsi yang mengarah pada penguatan dan pembangunan Karakter. Apa saja 4 prinsip itu?.

Prinsip-Prinsip Pendidikan Anti Korupsi oleh KPK RI

Apa Saja Prinsip Pendidikan Anti Korupsi
Setidaknya ada 4 (empat) Prinsip yang sudah dijabarkan oleh Lembaga KPK. Prinsip-prinsip itu adalah sebagai berikut :

  1. Sebagai bagian dari pendidikan karakter, pendidikan antikorupsi bersifat jangka panjang. Dimulai sejak peserta didik masuk ke satuan pendidikan dasar hingga di pendidikan tinggi. Proses awal memerlukan identifikasi dan perencanaan yang matang sementara hasilnya baru akan terlihat dalam beberapa dekade kedepan.
  2. Sebagaimana pendidikan karakter, pendidikan antikorupsi dipengaruhi oleh perbedaan setiap tahap perkembangan anak. Efektivitas pendidikan karakter harus menimbang dengan seksama karakteristik perkembangan yang dominan pada setiap tahapan usia
  3. Pendidikan antikorupsi harus bertumbuh memadukan antara pemahaman, penyadaran dan pengamalan di semua segi kehidupan secara konsisten. Proses ini berlangsung keluarga,  sekolah, dan lingkungan atau masyarakat, serta komunitas-komunitas yang dekat dengan kehidupan anak, baik pada tataran sosial maupun budaya. Ki Hajar Dewantara menyebut terdapat tiga tempat pergaulan yang menjadi pusat pendidikan, yakni apa yang ia sebut sebagai alam-keluarga, alam perguruan, dan alam-pergerakan pemuda. Secara lebih luas, alam perguruan /sekolah meliputi di kelas dan di luar kelas, sedangkan alam-pergerakan pemuda meliputi teman bermain dan masyarakat
  4. Pendidikan antikorupsi merupakan bagian integral dari pendidikan karakter generasi muda. Hal ini sangat bergantung pada 2 (dua) faktor besar. Pertama, motivasi individu. Artinya, meskipun pendidikan karakter antikorupsi berjalan baik, tetapi selama motivasi individu untuk korupsi tidak berkurang, maka efektivitas sosialisasi nilai-nilai antikorupsi masih dipertanyakan. Kedua pada aras makro, kesempatan untuk melakukan korupsi merupakan salah satu faktor yang dapat mengikis habis penanaman nilai-nilai baik anti korupsi

Thursday, July 25, 2019

Sekolah sebagai Penguatan Karakter dan Anti Korupsi

Pengelolaan sekolah yang berpeluang untuk melakukan praktek-praktek ataupun kegiatan-kegiatan yang termasuk kedalam perliku koruptif, sudah sepatutnya kita benahi dan pembenahan praktek-praktek ini bukan hanya sebagai kegiatan besar yang tanpa hasil. Sejak lama kita menyadari adanya kelemahan perilaku pada bangsa kita sebagai warisan kolonial. Kita juga mencoba berupaya mengikis kelemahan itu. Namun, segala upaya seolah tiada hasilOleh karena itu, perlu adanya budaya baru dengan cara yang berbeda yang dilakukan melalui pendidikan karakter bukan hanya di dunia pendidikan formal seperti sekolah, namun juga perlu dilakukan mulai dari tingkat keluarga hingga masyarakat.

Kita tentu sadar, yang akan kita lakukan tidaklah mudah seperti halnya membalikkan telapak tangan. Namun, seberat apapun rintangan, kalau kita berupaya dengan bersungguh-sungguh, maka usaha kita akan mendapatkan hasil. seperti pepatah bilang, siapa yang menanam maka ia akan memanennya,


Untuk itu, upaya apa yang dapat kita lakukan sebagai orang yang berkecimpung di dunia pendidikan? Berikut ini ada beberapa upaya yang dapat dilakukan di sekolah :
  1. Fokus pada penguatan Karakter
  2. Fokus pada Perbaikan Pola pikir dan perilaku
  3. mengutamakan pembelajaran melalui pengkondisian untuk menguatkan karakter 
  4. mempraktekkan dan mengamalkan perilaku anti korupsi secara massif di seluruh pusat pendidikan
  5. menggunakan keteladanan orang dewasa sebagai prasyarat untuk melakukan proses pendidikan
  6. proses pembudayaan melalui pendekatan wilayah dan budaya luhur setempat
Dengan demikian, melalui enam upaya di atas, diharapkan Sekolah Menjadi Lokomotif Penguatan Karakter dan Budaya Anti Korupsi dapat dengan efektif membuadayakan generasi penerus bangsa ini menjadi generasi muda yang anti Korupsi.
Wednesday, July 24, 2019

Perlukah Pendidikan Anti Korupsi diterapkan di Sekolah?

Akhir-akhir ini, saya sering mendengar bahwa dalam pembelajaran di sekolah, guru sudah harus bisa mengintegrasikannya dengan pendidikan anti korupsi. Sebenarnya apa sih Pendidikan Anti korupsi itu? bagaimana penerapannya di dalam sekolah, terutama di jenjang sekolah dasar dan menengah? karena yang saya tahu, pendidikan anti korupsi itu adanya dibangku perkuliahan. itu pun tidak semua program studi mendapatkan mata kuliah itu. hanya di beberapa perguruan tinggi saja. Nah sekarang ini malah ada isu sudah harus diterapkan mulai pada jenjang sekolah dasar / menengah, bahkan ada yang bilang mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD). Benarkah demikian?

Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan di atas, maka dari itu saya mencoba googling kesana kemari, dan akhirnya saya menemukan panduang lengkap mengenai pendidikan anti korupsi ini. namun, sebelum kita menyelami lebih  jauh tentang pendidikan anti korupsi ini, alangkah baiknya kita sama-sama pahami terlebih dahulu tentang apa itu pendidikan anti korupsi dan mengapa di perlukan pendidikan anti korupsi di sekolah dasar dan menengah.

Kita tahu, Beberapa tahun belakangan, kasus tindak pidana korupsi sudah sungguh sangat mengkhawatirkan, bahkan seolah-olah tindakan korupsi ini sudah seperti menjadi kebiasaan bukan hanya bagi para pejabat tinggi, bahkan sampai pejabat sekelas kacung yang paling bawahpun sudah tidak sedikit yang terjerat kasus korupsi ini. Seolah-olah perbuatan korupsi ini sudah di atur sedemikan rupa sehingga seperti terlihat berjamaah yang sudah ada komando/imamnya. 
Mengapa bisa demikian hebatnya kasus korupsi ini? Sebenarnya muara atau pusat masalah korupsi ini karena hilangnya nilai-nilai anti korupsi itu sendiri. Apa nilai-nilai anti korupsi? nilai-nilai korupsi ini antara lain adalah kejujuran, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, hidup sederhana, dan rasa keadilan yang sudah mulai pudar. Sementara, disisi lain dunia pendidikan yang diharapkan menjadi penguat atau pembentuk karakter anak bangsa, dirasa sudah tidak lagi konsisten dalam menjalankan fungsi-fungsinya. hal ini di tandai dengan perubahan kurikulum yang hampir tiap ganti presiden, maka ganti pula menteri pendidikannya, menteri pendidikannya ganti, maka dapat dipastikan pula berubah kurikulum dan kebijakannya dalam hal pendidikan. seperti proses pendidikan yang lebih mementingkan nilai pengetahuan dibanding dengan nilai-nilai pembentukan karakter yang baik. Sekalipun sekolah mengimplementasikan berbagai kegiatan sejenis, akan tetapi hal tersebut dilaksanakan seolah-olah terpisah dari proses pembelajaran yang utuh. lebih dari itu, praktek pengelolaan sekolah pun tidak luput dari perilaku koruptif pada segala hal. Misalnya saja, dana bantuan operasional yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan operasinal sekolah, malah di pergunakan untuk kepentingan-kepentingan yang lain. 

Alih-alih menguatkan sekolah sebagai pusat pendidikan yang utama dalam pembentukan karakter dan penguatan budaya antikorupsi, kita semua lebih sibuk melakukan upaya penanganan jangka pendek. Oleh karena itu, inilah saatnya untuk mengembalikan sekolah sebagai lokomotif penguatan budaya antikorupsi untuk jangka panjang. Jadi, menjawab pertanyaan pada judul tulisan ini bahwa

Jawaban saya adalah Sangat Perlu. Semoga tulisan ini membawa berkah bagi hidup kita dan secara umum tentunya saya berharap dapat membawa keberkahan bagi bangsa dan negara kita yang kita cintai bersama ini.